Raseptya Sukaliandantro C1C010022
Maditanofiq S.P C1C010036
Wahyu Jati Utomo C1C010046
Aghastama F. K. P C1C010083
Irfan Andi Pramudya C1C010091
Terdapat tujuh tahap dalam
merencanakan audit, yaitu :
1. Memahami Bisnis dan Industri Klien
Auditor dapat berkomunikasi
dengan auditor lain yang di tahun sebelumnya telah melakukan audit atas laporan
keuangan entitas untuk memperoleh pemahaman tentang bisnis entitas. Disamping
itu, auditor dapat berkomunikasi dengan penasihat hukum / penasihat lain untuk
memperoleh informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh perusahaan
dalam bisnisnya. Pengetahuan mengenai industri yang menjadi tempat usaha klien
dapat diperoleh dengan berbagai cara:
a. Meminta
keterangan dari klien.
b. Berlangganan majalah yang dikeluarkan oleh
organisasi industri yang bersangkutan.
c. Aktif
berpartisipasi dalam perkumpulan berbagai industri / program-program latihan
yang diselenggarakan oleh berbagai industri.
2. Melaksanakan Prosedur Analitik
Tujuan prosedur analitik dalam
perencanaa audit adalah untuk membantu perencanaan sifat, saat, dan luas
prosedur audit yang akan digunakan untuk memperoleh bukti tentang saldo akun
atau jenis transaksi tertentu. Prosedur analitik dapat mengungkapkan : (1) peristiwa
atau transaksi yang tidak biasa, (2) perubahan akuntansi, (3) perubahan usaha,
(4) fluktuasi acak, (5) salah saji.
3. Mempertimbangkan Tingkat Materialitas Awal
Pada tahap perencaan audit,
auditor perlu mempertimbangkan materialitas awal pada dua tingkat ini : (1)
tingkat laporan keuangan, (2) tingkat saldo akun. Materialitas awal pada
tingkat laporan keuangan perlu diterapkan oleh auditor karena pendapat auditor
atas kewajaran laporan keuangan diterapkan pada laporan keuangan sebagai keseluruhan.
Materialitas awal pada tingkat saldo akun ditentukan oleh auditor pada tahap
perencanaan audit karena untuk mencapai simpulan tentang kewajaran laporan
keuangan sebagai keseluruhan, auditor perlu melakukan verifikasi saldo akun.
4. Mempertimbangkan Risiko Bawaan
Pada tahap perencanaan audit,
auditor harus mempetimbangkan risiko bawaan (inherent risk) suatu risiko salah
saji yang melekat dalam saldo akunatau asersi tentang saldo akun. Pada tahap
pemahaman dan pengujian pengendalian intern, auditor harus mempertimbangakan
risiko pengendalian (control risk), suatu risiko tidak dapat dicegahnya salah
saji material dalam suatu saldo akun atau asersi tentang suatu saldo akun oleh
pengendalian intern. Pada tahap pelaksanaan pengujian substantif, auditor harus
mempertimbangkan risiko deteksi (detection risk), suatu risiko tidak
terdeteksinya salah saji material dalam suatu saldo akun atau asersi tentang
suatu saldo akun oleh prosedur audit yang yang dilaksanakan auditor.
5. Mempertimbangkan Berbagai Faktor Yang
Berpengaruh Terhadap Saldo Awal, Jika Perikatan Dengan Klien Berupa Audit Tahun
Pertama
Audit tahun pertama memberikan
panduan bagi auditor berkenaan dengan saldo awal, bila laporan keuangan di
audit untuk pertama kalinya atau bila laporan keuangan tahun sebelumnya diaudit
oleh auditor independen lain. Auditor harus menyadari mengenai hal-hal
bersyarat (contingencies) dan komitmen yang ada pada awal tahun. Auditor harus
menentukan bahwa saldo awal mnecerminkan penerapan kebijakan akuntansi yang semestinya
dan bahwa kebijakan tersebut diterapkan secara konsisten dalam laporan keuangan
tahun berjalan. Bila terdapat perubahan dalam kebijakan akuntansi atau
penerapannya, auditor harus memperoleh kepastian bahwa perubahan tersebut
memang semestinya dilakukan, dan dipertanggunghjawabkan, serta diungkapkan.
6. Mengembangkan Strategi Audit Awal Terhadap
Asersi Signifikan
Tujuan akhir perencanaan dan
pelaksanaan audit yang dilakukan auditor adalah untuk mengurangi risiko audit
ke tingkat yang rendah, untuk mendukung pendapat apakah, dalam semua hal yang
material, laporan keuangan disajikan secara wajar. Tujuan ini diwujudkan
melalui pengumpulan dan evaluasi bukti tentang asersi yang terkandung dalam
laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen.
7. Memahami Pengendalian Intern Klien
Tujuan auditor untuk memahami
pengendalian intern untuk mendapatkan informasi mengenai, frekuensi pelaksanaan
aktivitas pengendalian, mutu pelaksanaan aktivitas pengendalian, dan karyawan
yang melaksanakan aktivitas pengendalian. Setelah auditor merasa penegendalian
intern dari kliennya baik, maka proses audit dapat dilanjutk