Rabu, 27 Maret 2013

REVISI AUDIT II


Jurnal tentang "STUDI TENTANG EFEKTIVITAS PENGENDALIAN INTERN PENJUALAN
Studi Kasus pada PT. Anta Express Tour & Travel Service, Tbk."


File ppt "STUDI TENTANG EFEKTIVITAS PENGENDALIAN INTERN PENJUALAN
Studi Kasus pada PT. Anta Express Tour & Travel Service, Tbk."


Senin, 25 Maret 2013

perencanaan audit


Raseptya Sukaliandantro              C1C010022
Maditanofiq S.P                           C1C010036
Wahyu Jati Utomo                        C1C010046
Aghastama F. K. P                       C1C010083
Irfan Andi Pramudya                     C1C010091

Terdapat tujuh tahap dalam merencanakan audit, yaitu :
1.    Memahami Bisnis dan Industri Klien
Auditor dapat berkomunikasi dengan auditor lain yang di tahun sebelumnya telah melakukan audit atas laporan keuangan entitas untuk memperoleh pemahaman tentang bisnis entitas. Disamping itu, auditor dapat berkomunikasi dengan penasihat hukum / penasihat lain untuk memperoleh informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh perusahaan dalam bisnisnya. Pengetahuan mengenai industri yang menjadi tempat usaha klien dapat diperoleh dengan berbagai cara:
a.  Meminta keterangan dari klien.
b.  Berlangganan majalah yang dikeluarkan oleh organisasi industri yang bersangkutan.
c.  Aktif berpartisipasi dalam perkumpulan berbagai industri / program-program latihan yang diselenggarakan oleh berbagai industri.

2.    Melaksanakan Prosedur Analitik
Tujuan prosedur analitik dalam perencanaa audit adalah untuk membantu perencanaan sifat, saat, dan luas prosedur audit yang akan digunakan untuk memperoleh bukti tentang saldo akun atau jenis transaksi tertentu. Prosedur analitik dapat mengungkapkan : (1) peristiwa atau transaksi yang tidak biasa, (2) perubahan akuntansi, (3) perubahan usaha, (4) fluktuasi acak, (5) salah saji.

3.    Mempertimbangkan Tingkat Materialitas Awal
Pada tahap perencaan audit, auditor perlu mempertimbangkan materialitas awal pada dua tingkat ini : (1) tingkat laporan keuangan, (2) tingkat saldo akun. Materialitas awal pada tingkat laporan keuangan perlu diterapkan oleh auditor karena pendapat auditor atas kewajaran laporan keuangan diterapkan pada laporan keuangan sebagai keseluruhan. Materialitas awal pada tingkat saldo akun ditentukan oleh auditor pada tahap perencanaan audit karena untuk mencapai simpulan tentang kewajaran laporan keuangan sebagai keseluruhan, auditor perlu melakukan verifikasi saldo akun.

4.    Mempertimbangkan Risiko Bawaan
Pada tahap perencanaan audit, auditor harus mempetimbangkan risiko bawaan (inherent risk) suatu risiko salah saji yang melekat dalam saldo akunatau asersi tentang saldo akun. Pada tahap pemahaman dan pengujian pengendalian intern, auditor harus mempertimbangakan risiko pengendalian (control risk), suatu risiko tidak dapat dicegahnya salah saji material dalam suatu saldo akun atau asersi tentang suatu saldo akun oleh pengendalian intern. Pada tahap pelaksanaan pengujian substantif, auditor harus mempertimbangkan risiko deteksi (detection risk), suatu risiko tidak terdeteksinya salah saji material dalam suatu saldo akun atau asersi tentang suatu saldo akun oleh prosedur audit yang yang dilaksanakan auditor.


5.    Mempertimbangkan Berbagai Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Saldo Awal, Jika Perikatan Dengan Klien Berupa Audit Tahun Pertama
Audit tahun pertama memberikan panduan bagi auditor berkenaan dengan saldo awal, bila laporan keuangan di audit untuk pertama kalinya atau bila laporan keuangan tahun sebelumnya diaudit oleh auditor independen lain. Auditor harus menyadari mengenai hal-hal bersyarat (contingencies) dan komitmen yang ada pada awal tahun. Auditor harus menentukan bahwa saldo awal mnecerminkan penerapan kebijakan akuntansi yang semestinya dan bahwa kebijakan tersebut diterapkan secara konsisten dalam laporan keuangan tahun berjalan. Bila terdapat perubahan dalam kebijakan akuntansi atau penerapannya, auditor harus memperoleh kepastian bahwa perubahan tersebut memang semestinya dilakukan, dan dipertanggunghjawabkan, serta diungkapkan.

6.    Mengembangkan Strategi Audit Awal Terhadap Asersi Signifikan
Tujuan akhir perencanaan dan pelaksanaan audit yang dilakukan auditor adalah untuk mengurangi risiko audit ke tingkat yang rendah, untuk mendukung pendapat apakah, dalam semua hal yang material, laporan keuangan disajikan secara wajar. Tujuan ini diwujudkan melalui pengumpulan dan evaluasi bukti tentang asersi yang terkandung dalam laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen.

7.    Memahami Pengendalian Intern Klien
Tujuan auditor untuk memahami pengendalian intern untuk mendapatkan informasi mengenai, frekuensi pelaksanaan aktivitas pengendalian, mutu pelaksanaan aktivitas pengendalian, dan karyawan yang melaksanakan aktivitas pengendalian. Setelah auditor merasa penegendalian intern dari kliennya baik, maka proses audit dapat dilanjutk

Sabtu, 16 Maret 2013

Sepuluh Standar Auditing

Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas mengenai Standar Auditing yang secara garis besar dibagi menjadi 3 bagian yaitu standar umum, standar pekerjaan lapangan, dan standar pelaporan. Ketiga bagian tersebut nantinya terbagi lagi ke dalam 10 standar yang nantinya akan menjadi pokok pembahasan pada postingan saya kali ini. Berikut penjabarannya :

1.Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor, artinya dalam melaksanakan audit tentu tidak boleh sembarang orang untuk melakukannya. Dibutuhkan skill atau keahlian yang benar - benar telah teruji bagi seseorang yang mendapat amanat guna melaksanakan pekerjaan auditnya.

2.Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor, Artinya sebagai seorang auditor, sikap independensi harus dipertahankan dalam pelaksanaan audit. Tentunya hal ini harus direalisasikan dengan tidak berpihaknya seorang auditor terhadap salah satu pihak saja, akan tetapi harus menjunjung tinggi sikap netral dan objektif.

3.Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalismeannya dengan cermat dan seksama, Artinya dalam melaksanakan tugas audit, seorang auditor wajib mengerahkan segenap kemampuannya dengan menjunjung tinggi nilai profesionalisme dan keahlian. Seorang auditor yang profesional tentunya akan mencurahkan segenap skill yang dimiliki dengan melaksanakan audit secara cermat dan teliti.

4.Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya, artinya dengan melakukan perencanaan secara cermat sebelum melakukan proses audit, tentunya akan memudahkan bagi seorang auditor guna melaksanakan pekerjaannya kelak. Nantinya tentu saja akan membuat proses audit menjadi lebih cepat serta efisien.

5.Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat dan lingkup pengujian yang akan dilakukan, artinya dengan mendapatkan pemahaman yang yang memadai atas suatu pengendalian intern perusahaan tempat di mana seorang auditor akan melakukan audit,  ia akan dapat menentukan taksiran dalam menentukan sifat, saat, dan luas dalam pengujian substantive untuk asersi laporan keuangan.

6.Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan dan permintaan keterangan dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit, artinya bukti audit yang kompeten memiliki arti penting bagi auditor karena akan berpengaruh terhadap kesimpulan yang akan ditarik oleh auditor dalam rangka memberikan pendapat atas laporan keuangan perusahaan klien.

7.Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun  sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di indonesia, artinya seorang auditor memiliki keharusan untuk menyatakan suatu pendapat mengenai apakah suatu laporan keuangan benar - benar telah tersaji sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku secara umum di Indonesia.

8.Laporan auditor harus menunjukkan, jika ada ketidakonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya, artinya pada standar ini seorang auditor dituntut untuk memahami hubungan antara konsistensi dengan daya banding laporan keuangan. Tujuan dari standar ini adalah agar memberikan jaminan bahwa jika daya banding laporan keuangan pada kedua periode nantinya terpengaruh secara material akibat perubahan prinsip akuntansi, maka seorang auditor harus mengungkapkan perubahan tersebut dalam laporannya.

9.Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor, artinya sebagai seorang auditor yang profesional tentunya harus senantiasa mempertimbangkan apakah masih terdapat hal - hal tertentu yang harus diungkapkan sehubungan dengan keadaan dan fakta yang ditemukannya selama proses audit berlangsung.

10.Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya hrus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh auditor, artinya tujuan dari standar ini adalah sebagai tindakan preventif bagi akuntan tentang salah tafsir dalam tanggung jawab yang dipikulnya bila namanya dikaitkan dalam suatu laporan keuangan.

Demikian penjelasan mengenai 10 standar audit yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Mohon maaf apabila masih banyak kekurangan di sana sini, sampai jumpa lagi. \m/ * . * \m/ 

Jumat, 15 Maret 2013

Tugas Kelompok Auditing II

Jurnal penelitian oleh Hermiyetti, STEKPI Jakarta
Pengaruh Penerapan Pengendalian Internal Terhadap Pencegahan Fraud Pengadaan Barang

dan berikut ini hasil pembahasan oleh kelompok kami, untuk mengunduhnya dapat melalui link berikut
pembahasan

Rabu, 31 Oktober 2012

Tugas Akuntansi Keuangan Sektor Publik Kasus Kab. Tanahmas Raya

Berikut ini saya posting tugas menjelang UTS mata kuliah Akuntansi Keuangan Sektor Publik yang mengambil kasus dari Kab. Tanahmas Raya. Berikut file downloadnya :

Tugas Akuntansi Keuangan Sektor Publik

Selasa, 23 Oktober 2012

Akuntansi Pemerintahan Kota Tokyo Jepang

Pada kesempatan yang baik ini, saya akan berbagi mengenai prinsip atau standar akuntansi yang dianut oleh pemerintah kota Tokyo di Jepang. Langsung saja kita mulai..

Pada April 2006, pemerintah kota Tokyo mengimplementasikan penggunaan accrual basic sejalan dengan prosedur pembukuan double entry dan mengaplikasikannya ke dalam akun umum dan spesial. Langkah ini dilakukan karena mendasarkan pada pemodifikasian prosedur akuntansi pemerintahan tradisional di Jepang.

Sebelum standar itu diimplementasikan oleh Pemerintah kota Tokyo, mereka meluncurkan nama untuk standar yang dianut tersebut yaitu "Tokyo Metropolitan Government Accounting Standard" yang didalamnya ditetapkan secara rinci tentang kebijakan akuntansi dan metode penting untuk melaksanakan prosedur accrual basic dan prosedur pembukuan dengan double entry. Pada prinsipnya, standar akuntansi yang dianut oleh pemerintah kota Tokyo berlaku aturan yang sama dengan yang dianut oleh perusahaan pada sektor privat, tapi pada tetap mempertimbangkan unsur - unsur tertentu dari akuntansi pemerintahan yang dianggap sesuai.

berikut merupakan prisip karakteristik dari standar akuntansi pemerintah kota Tokyo :
  • Standar ini menetapkan bahwa laporan keuangan akan terdiri dari neraca, laporan biaya operasional,     laporan arus kas, dan laporan perubahan nilai aktiva bersih, dan lebih lanjut mengenai supporting schedule dan catatan kaki lainnya akan dipersiapkan juga
  • Standar ini mengadopsi akuntansi berbasis accrual dan mengakui biaya tertentu seperti biaya depresiasi dan ketentuan untuk berbagai tunjangan
  • Standar ini mengadopsi sistem double entry di mana ayat jurnal dibuat berdasarkan pelaksanaan transaksi harian
  • Standar ini memungkinkan untuk melakukan penyesuaian jangka waktu tutup buku selama 2 bulan untuk memastikan konsistensinya dengan akuntansi pemerintahan yang ada
  • Klasifikasi aset telah sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh undang - undang otonomi lokal 
  • Konsep dasar untuk akuntansi dan tata letak laporan keuangan dan sebagainya sejalan dengan yang ditentukan dalam International Public Sector Accounting Standarad ( IPSAS )
Demikian sedikit ulasan yang dapat saya tampilkan, dan di bawah telah saya sediakan link download untuk standar akuntansi pemerintah kota Tokyo bila ada yang ingin mengetahui lebih detilnya. Terima kasih, semoga bermanfaat.

Rabu, 17 Oktober 2012

DATA APBD SELURUH KABUPATEN DI INDONESIA TAHUN 2007 - 2011


Pada kesempatan ini saya akan berbagi mengenai data APBD seluruh Kabupaten di Indonesia pada kurun waktu antara tahun 2007 hingga 2011. Pendapatan pada total APBD di seluruh Indonesia mengalami kenaikan dalam 5 tahun yaitu antara tahun 2007 hingga 2011. Untuk memudahkan, semua angka yang ditampilkan berikut berada pada skala milyar Rupiah. berikut data pendapatan pada APBD keseluruhan Kabupaten di Indonesia :

Tahun 2007        Rp. 285.275
Tahun 2008        Rp. 376.434
Tahun 2009        Rp. 387.164
Tahun 2010        Rp. 403.041
Tahun 2011        Rp. 442.235

Terlihat dari data di atas pendapatan pada APBD seluruh Indonesia selama kurun waktu 5 tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Berikutnya adalah data belanja daerah pada APBD seluruh Indonesia yang mengalami fluktuasi dalam kurun waktu 5 tahun antara tahun 2007 hingga 2011. Berikut datanya (dalam milyar Rupiah ) :
Tahun 2007        Rp. 312.701
Tahun 2008        Rp. 366.951
Tahun 2009        Rp. 353.300
Tahun 2010        Rp. 443.565
Tahun 2011        Rp. 474.135

Demikian data yang bisa saya tampilkan secara garis besar mengenai APBD seluruh Kabupaten di Indonesia. Bila ingin mengetahui lebih rinci mengenai detail APBD seluruh Kabupaten di Indonesia, di bawah saya sediakan link untuk mendownloadnya. Sekian terima kasih, semoga bermanfaat.